Sunday, 16 March 2014

Orang-Orang Berwarna

Posted by http://areumdaunwinner.blogspot.com/ at 12:31 2 comments
Kemarin, sekitar pukul empat sore, aku melangkah gontai menuju kampus. Meski acara Chem-Bond terlihat heboh di depan Lab. Kimia, tapi Lab. Biologi malah sepi. Ya, itu hari Sabtu, tak ada kegiatan perkuliahan, biasanya. Dengan netbook di tangan, aku melangkah ke tempat itu. Ya, tidak ada destinasi lain selain tempat itu. Tempat yang membuat aku lupa bahwa beban pikiran itu ada, selalu, tapi hilang seketika saat bertemu teman-teman di sini.

Tempat ini seperti kehilangan nyawa di saat-saat seperti ini, dan aku benci itu. Bagiku ini tempat yang akan mengalahkan kehebohan Chem-Bond jika dipenuhi oleh orang-orang berwarna itu. Orang-orang berwarna yang semula terlihat sama namun kemudian mulai menunjukkan warna masing-masing. Dan tempat ini hanyalah wadah putih yang terlihat hampa tanpa warna mereka.

Aku sadari atau tidak, perlahan ada tarikan yang membuat teman-teman juga melangkahkan kaki ke tempat ini. Aku atau bukan, aku tak peduli. Hanya saja aku senang mereka menambah warna pada tempat ini. Dalam kehampaannya tempat ini seakan bercerita, jika warna itu tidak bertambah maka warna itu berganti.

Orang-orang berwarna yang pernah atau tengah menghiasi tempat ini, aku tak ingin mereka memudar dan menjauh. Tapi, mereka juga harus menunjukkan warna mereka di tempat lain... maka aku tak punya hak untuk menahannya... karena itu baik... baik untuk mereka... baik untuk semua orang... Dan itu karena tak ada makhluk hidup yang stagnan... maka bergeraklah, menuju apa yang baik untuk dirimu dan orang banyak.

"Apa kau sedih mereka pergi?"
"Ya."
"Tapi mereka mengejar mimpi-mimpi terbaik mereka."
"Ya, aku tahu. Ini hanya keegoisanku saja, aku tak bermaksud menahannya."
"Apa kau menangis?"
"Mereka yang menangis."
"Apa kau juga menangis?"
"Itu hanya akting."
"Kau menangis atau tidak?"
"Ya..."



Tak ada yang mau ditinggalkan, bahkan tempat ini, jika ia bisa bicara maka ia juga akan bilang 'tidak mau'. Mungkin ia merasa cukup untuk ditinggalkan di malam hari, dan kembali tersenyum pada pagi hingga sore hari, karena banyak warna yang menghiasi. Atau mungkin ia juga membenci Sabtu dan Minggu, karena ia merasa kembali hampa, sama seperti malam-malam yang ia lalui setiap hari.

Dan aku berharap nanti kita akan kembali ke tempat ini, menghiasinya lagi dengan warna masing-masing dan tertawa bersama mengulang cerita saat kita berada di sini, beberapa waktu lalu... :)





Thursday, 13 March 2014

Aku, Kau, dan Mereka

Posted by http://areumdaunwinner.blogspot.com/ at 06:48 1 comments
Hi...
Sudah sangat lama sejak pertama kali aku mengetikkan kata demi kata sebagai post pertama di blog ini. Post itu kini berlabel 'tahun lalu'. Tapi sudahlah... Hari ini, entah kenapa, aku merasa harus menuliskan sesuatu disini. Mungkin karena baru saja membaca postingan teman atau karena ada sesuatu yang mengganjal dan tak dapat diungkapkan, bahkan terlalu berat untuk diceritakan pada 'Flurry'...

Aku sedang membenci sesuatu... Aku benci bagaimana aku berpikir bahwa semua baik-baik saja dan merasa tak ada yang berubah. Ini bohong! Aku bahkan ingin berteriak bahwa aku, kau, dan mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja. Hmmm... Ayolah... Katakan sesuatu, katakan bahwa kita akan baik-baik saja dan tak akan ada yang berubah. Tapi karena itulah aku butuh waktu. Aku butuh waktu lebih lama untuk menunggu dan berbincang, serta mendengarkan beberapa untaian kata dari 'dirimu sendiri' bertajuk 'kita akan baik-baik saja dan tak akan ada yang berubah' sehingga mereka pun akan ikut bernafas lega... Tapi itu hanya imajinasi liar. Karena tak mungkin semuanya baik-baik saja sedangkan nyatanya tidak. Dan tak ada yang berubah? Omong kosong! Bahkan aku sangat menyadari kita sangat berbeda dari saat pertama kali bertemu di tempat ini, dan saling tak mengenal.

Beberapa hari ini pertanyaan "Wn, kau tahu kami tak akan bisa mengerjaimu, jadi langsung saja, kado apa yang kau inginkan untuk ulang tahunmu?" terngiang kembali. Aku ingat itu adalah pertanyaan tiga bulan lalu, Januari. Dan aku masih ingat jawaban "Wn ingin dua dus buah, dan itu aneka buah. Haahaa... Ah, tidak, I'm just kidding... Kado ulang tahun yang aku inginkan tidak bisa diberikan oleh siapapun kecuali diriku sendiri. Jadi, aku tak ingin kado apa-apa." menjadi penutup perbincangan itu. Tidak... perbincangan itu ditutup smirk smile. Ya, aku ingat, dan perbincangan itu terjadi radius dua meter, dibatasi bandul.

Hari ini, tepatnya sore ini, aku ingin menukarnya, menukar kado ulang tahunku. Jujur, kado ulang tahun yang kuinginkan hanyalah sebuah harapan, tapi itu sangat berarti, jika bukan untuk orang lain maka itu untuk diriku sendiri. Yeah... Ini sudah berbulan-bulan sejak hari ulang tahun itu. Tapi, aku sangat sangat ingin menukarnya dengan harapan lain. Jika aku tahu semua tidak akan baik-baik saja dan berubah, aku akan berharap tidak ada kata, bukan, angka 3.5, 3.7, atau 3.8. Aku ingin satu angka saja, 4. Maka kita akan melangkah bersama, mengikuti arah panah masing-masing, sekali lagi, bersama. Atau aku seharusnya larut dalam keapatisanku, dan tak usah mengenal kau dan mereka. Maka semua tidak akan serumit ini, kupikir. Tapi harapan semacam itu hanya retorika. Toh aku sudah mengenal kau dan mereka, dan angka 3.5 itu sudah lewat. Angka itu juga mengawali keberanian jemari ini untuk mengetikkan sesuatu, lagi. Lalu, jika aku benar-benar ingin menukar kado ulang tahunku maka aku harus punya harapan yang masuk akal. Harapan itu kini berganti dan tertumpu pada satu kata, waktu. Harapan agar aku, kau dan mereka punya waktu lebih lama untuk bersama, setidaknya sampai akhir semester ini, karena itu aku ingin satu angka, 4.

Aku, kau dan mereka telah melalui hari-hari penuh keluh kesah dan canda tawa yang berawal dari perkenalan tak terduga. Aku masih ingat bagaimana aku amat sangat bosan harus duduk bersama orang asing tiap sore tahun-tahun pertama, mendengar ocehan tentang bagaimana aku, kau, dan mereka harus bersikap di sini, hingga saat dimana kita harus melangkah keluar dari tempat ini. Aku harus memaksa keapatisan ku menjauh hanya untuk sebuah senyum dan uluran tangan, ya, perkenalan. Kau dan mereka pun pasti tahu ingatan ku tak bisa diandalkan untuk mengingat nama orang asing. Tapi, rasa keterpaksaan itu menjadi tak beralasan karena hingga saat ini kau dan mereka yang semula orang asing itu memberikan warna dalam hari-hariku selama tiga tahun terakhir, dan menjadi orang-orang terdekat yang luar biasa. Aku tak tahu bagaimana kita bisa menjadi sangat dekat, tapi karena itulah aku butuh waktu lebih lama untuk bersama. Karena aku tak mau kehilangan senyum, haru, canda, gelak tawa, bahkan sosok orang-orang terdekat yang luar biasa itu, ya... orang-orang yang telah mengubah Winter menjadi Spring dalam ikatan bertajuk persahabatan. Jika harapan ini terlalu besar untuk aku, kau, dan mereka realisasikan maka aku harus mulai memaksa diriku tersenyum dan melambaikan tangan seraya berkata "Annyeong...".
 

areum-daun camouflage Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea