Aku masih berkutat dengan kalimat lama, "cerita teman-teman selalu lebih menarik untuk disimak". Berkali-kali aku mengulang kalimat ini, mungkin sekarang sudah jadi sugesti yang membuatnya lebih real... Maka disinilah aku, mendengarkan mereka, bercerita, tentang aku, tentang mereka, tentang apapun... Meski aku bukanlah pendengar yang baik (menurutku), tapi mereka berpikir sebaliknya... Ya, tidak semua orang berpikiran sama, tidak apa... dan aku masih tidak peduli, masih memakai jubah apatisku seperti biasanya.
Saat mereka larut dalam cerita yang dirasa patut diceritakan, aku mendengarkan dengan sesama, fokus, berusaha tidak buyar oleh pikiran-pikiranku sendiri, tapi harus ku akui sesekali aku tak sanggup menahan pikiran yang sedikit membuyarkan konsentrasi dalam memahami detail cerita mereka. Haahaa... tenang saja, itu hanya sesekali... Dan tidak semua orang akan menceritakan cerita menarik mereka... Harus aku katakan dengan gamblang bahwa setiap orang butuh rasa percaya yang 'amat sangat dalam' atau mungkin bisa dibilang rasa percaya yang 'keterlaluan', normalnya disebut rasa 'sangat percaya', untuk bisa fasih bercerita. Aku pun begitu, tak gampang percaya pada orang lain untuk menceritakan sesuatu, apalagi yang bersifat pribadi...
Baiklah, cerita ini mulai terlihat serius, tapi aku lebih serius untuk menceritakan mereka yang suka bercerita... Belakangan ini mereka dengan santai keluar-masuk batas duniaku, ya, the edge of my own perfect world... Kau tahu? Uum sampai menuliskan 'Winni dengan my own perfect world-nya' di buku kita. Tidak aneh jika kalimat ini menggantung di suatu space biografi di akun media sosial yang aku punya.
Heol~ Aku tahu, aku seharusnya (sedikit) mendeskripsikan buku ini... 'Buku kita', ya, memang begitu aku menyebutnya... Rasanya aneh jika aku harus menyebutnya 'buku tentang kita', aku tak ingin deskripsi buku ini seperti mengadaptasi judul lagu Peterpan (bukan Noah, karena formasi mereka berbeda), karena memang tak ada hubungannya sama sekali... Baiklah, mungkin aku yang menyeret ingatan seputar Tentang Kita dan Peterpan pada part ini... *pensive* Ehm... *fokus* buku ini dihiasi sepuluh tulisan tangan yang mendeskripsikan sepuluh orang, karena aku adalah satu diantaranya maka aku mendapat sembilan deskripsi tentang diriku dari sembilan orang yang empat tahun lalu merupakan orang asing, tapi orang-orang asing itu kini menjadi orang-orang terdekat selama di kota tercinta ini, Padang.
Mereka yang suka bercerita, melangkah keluar-masuk batas itu. Kau tahu aku tidak suka orang lain seenaknya keluar masuk, itu tidak sopan. Dan aku membangun batas itu dengan sifat selektif permeabel, aku sendiri yang menentukan siapa yang boleh masuk. Terdengar egois memang, tapi itu bagian dari karakterku, dan aku tidak menolak menjadi orang egois. Tapi belakangan ini aku membiarkan celah-celah itu melebar, membiarkan mereka masuk, tapi kini akan ku tutup lagi.
Ya, mereka yang suka bercerita memberi warna tersendiri... Bahkan aku lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka, walaupun hanya sekedar duduk dan bercerita... Mereka selalu menceritakan hal-hal yang menarik, a gripping story, juga terkadang memberi kejutan, kejutan yang mahal dan tak tergantikan... Mereka kadang menjadi 'sebagaimana mestinya' dibanding 'apa adanya'... Dan itulah alasan mengapa mereka bisa masuk ke dunia ini, my own perfect world... Jika mereka mampu bertahan menghadapi orang yang keras kepala ini maka mereka termasuk orang-orang hebat seperti teman-teman terdekat...
Tapi aku tak suka orang yang setengah-setengah... Jika suatu saat mereka ingin keluar maka keluarlah, jangan meninggalkan kenangan, jangan kembali. Mereka harus prinsipil dalam menentukan pilihan, dan totalitas seperti itu lah konsekuensi dari keputusan ingin keluar dari tempat ini, duniaku, hidupku...






